How it was last year… [Toraja Marathon 2016 After Event Video]
10/02/2018
Nyamannya Bus Malam ke Toraja
10/02/2018

Kopi Toraja, Kopi Para Dewa

Sejumlah pekerja di perkebunan PT Sulotco Jaya Abadi sedang menyortir kopi yang baru dipetik untuk diberikan kepada luwak alias musang yang khusus ditempatkan di kandang.(KOMPAS/KENEDI NURHAN)

Sejumlah pekerja di perkebunan PT Sulotco Jaya Abadi sedang menyortir kopi yang baru dipetik untuk diberikan kepada luwak alias musang yang khusus ditempatkan di kandang.(KOMPAS/KENEDI NURHAN)

PESTA kematian rambu solo’ lengkap dengan tradisi potong kerbau (mantunu) yang bersimbah darah itu memang khas Toraja. Juga upacara rambu tuka’ sebagai bentuk sujud syukur kepada Puang Matua, sang pemberi hidup. Dua ritus besar ini ikut membuat Toraja dikenal luas hingga ke mancanegara. Hanya itukah?

Di panggung dunia, sejatinya nama Toraja lebih identik dengan kopi. Pengalaman Insmerda Lebang (67) ketika melawat ke Eropa, terutama saat mengunjungi beberapa negara di kawasan Nordik-Skandinavia, membuat kebanggaannya sebagai orang Toraja membuncah.

Ia menemukan kenyataan bahwa ternyata kopi berlabel nama toraja (toraja arabica coffee) mendapat tempat istimewa: dipajang sangat mencolok di kafe-kafe bergengsi di sana.

”Waktu itu kami sedang berlibur. Di Eslandia, sekali waktu kami mesti berteduh karena turun hujan. Saya masuk ke satu kafe. Begitu mau cari tempat duduk, saya lihat ada kopi toraja dan termasuk yang direkomendasikan oleh pihak pengelola kafe kepada para tamunya,” kata Insmerda saat ditemui di Makale, Tana Toraja, akhir Juli lalu.

Bukan hanya di Eslandia, di Finlandia, Denmark, dan Swedia pun kopi toraja tersedia. Belakangan diperoleh informasi, kopi asal Toraja itu didatangkan dari Belanda. Dan, di Belanda sendiri kopi tersebut dipasok oleh jaringan eksportir yang masih terkait dengan perusahaan perkebunan kopi di Toraja.

”Ini satu lagi bukti bahwa kopi toraja tak hanya dikenal di Jepang, seperti yang selama ini sudah umum diketahui, tapi benar-benar sudah mendunia,” kata Insmerda, purnawirawan polisi bintang tiga ini.

Sejak itu, terlebih setelah pensiun dari kepolisian, Insmerda memutuskan membuat semacam ”hutan kopi” di tanah kelahirannya di Tana Toraja. Lahan berbukit seluas sekitar 20 hektar di pinggiran Makale ia tanami kopi arabika varietas lokal yang sudah menyatu dengan alam Toraja sejak ratusan tahun lalu.

Sumber : http://travel.kompas.com