Kamu Suka Trail Run? Suka Naik Gunung Dong..? Coba Ke Sesean Yuk Abis Toraja Marathon!

Cafe Aras
June 23, 2016
Sampai Toraja Harus Mampir ke Warung Kopi Om Sulaiman!
July 22, 2016

Kamu Suka Trail Run? Suka Naik Gunung Dong..? Coba Ke Sesean Yuk Abis Toraja Marathon!

puncak_sesean_2Rasanya sudah cukup lama juga tidak merasakan lagi sensasi menapak ke ketinggian. Rindu saat melintasi hutan-hutan. Melepas dahaga dengan aliran air sungai yang diberikan alam. Memanggul keril selama berjam-jam bahkan seharian hingga lelah kepayahan. Menyaksikan pesona alam nan cantik, yang bahkan sebagian orang dengan lebay menyebutnya sebagai serpihan surga yang jatuh ke bumi. Ahh, indahnya bercengkerama dengan alam.

Di daerah Toraja, tepatnya di Desa Sesean Toraja Utara, ada satu gunung yang mulai populer dan sering menjadi bahan gosip para pendaki yang belum kesampaian datang kesana setidaknya dalam setahun dua tahun belakangan ini. Namanya Gunung Sesean, mungkin gunung itu satu-satunya gunung yang ada di Toraja. Gunung yang memiliki ketinggian sekitar 2100 mdpl ini terletak Desa Sesean Kecamatan Sesean Soloara yang berjarak kurang lebih dua jam perjalanan dari kota Rantepao.

Masih pagi-pagi sekali kami tiba di kota Rantepao Toraja Utara dengan menggunakan bus Metro Permai tadi malam. Namun bus yang kami gunakan bukanlah bus besar seperti biasanya tapi bus ukuran 3/4. Padahal rencana awalnya menggunakan bus yang berukuran besar itu. Karena adanya insiden kemacetan yang tak terduga di sepanjang jalan perintis selama berjam-jam membuat saya tiba terlambat di terminal sehingga bus besar yang seharusnya saya tumpangi sudah berangkat lebih dulu dan tidak mungkin menunggu saya dan yang tersisa hanya ukuran 3/4 itu. Untung bus masih ada karena saya tiba sudah terlalu larut sekitar jam 11 malam dan teman-teman pun masih setia menunggu. Walaupun dengan bus ukuran kecil itu ternyata cukup nyaman juga digunakan melintasi jalur Makassar menuju Toraja. Busnya memiliki AC dan masih berfungsi, walaupun sebenarnya kalau malam tidak terlalu butuh alat pendingin udara itu, kursinya bisa diatur kemiringannya supaya nyaman untuk tidur, ada bantalnya pula, cuma saya tidak menemukan selimut. Ongkosnya pun lumayan murah hanya 100 ribu rupiah tiba di Toraja.

Belum banyak terlihat aktivitas pagi itu di Kota Rantepao. Pasarnya pun belum terlihat ramai, tapi aroma kopi sudah bertebaran dimana-mana. Sebelum berangkat menuju Sesean, kami singgah dulu bersilaturrahmi ke rumah seorang kawan dari kawan kami. Kawan yang sudah lama tinggal di Toraja dan sudah tahu banyak mengenai tempat-tempat wisata di seputaran Toraja. Kawan itu juga bisa memberi arahan atau bahkan saran jika ingin berkeliling Toraja. Selain itu, kami juga sedang menunggu teman yang masih dalam perjalanan untuk bersama-bersama mendaki Gunung Sesean.

puncak_sesean_4Siang hari kami bersiap-siap menuju Desa Sesean, sebelum benar-benar ke Sesean, kami mampir sejenak di Pasar Bolu untuk melengkapi ransum yang belum ada sebagai bekal selama di gunung nanti. Sekitar dua jam lamanya perjalanan dari Kota Rantepao menuju Desa Sesean. Selama perjalanan selalu menanjak melewati jalanan yang agak sempit serta berkelok-kelok dan kadang salah satu sisinya bersisian dengan jurang. Yah, sudah begitulah tipikal jalan di pegunungan. Saya yang duduk di bagian belakang mobil ternyata sempat down dan keluar keringat dingin dalam perjalanan. Saya pun disarankan untuk minum obat anti mabuk untuk memulihkan keadaan.

Lewat kaca jendela mobil banyak pemandangan alam tersaji di sepanjang perjalanan, mulai dari persawahan, jejeran tongkonan hingga makam-makam batu. Bahkan kami sempat singgah di satu tempat karena sayang melewatkan pemandangan itu begitu saja tanpa berfoto dulu dan sekaligus istirahat sejenak.

Sekitar pukul dua siang, tibalah kami di Desa Sesean, desa yang berada di kaki Gunung Sesean dan sebagai titik awal memulai pendakian. Tanpa berlama-lama lagi langsung melakukan persiapan mendaki supaya bisa menyaksikan sunset dari atas gunung.

Jalur pendakian dari desa terakhir ke pos 1 langsung dihajar dengan tanjakan dengan jalan berupa tanah kering dan akan becek jika terkena hujan. Menuju Pos 2 ternyata masih dihajar dengan tanjakan lagi. Kemudian melewati tangga-tangga beton yang membuat lutut semakin pegal saja karena harus mengangkat kaki lebih tinggi. Menuju Pos 3, 4, dan 5 ternyata tanjakan semakin parah dan semakin curam berkelok-kelok pula ditambah jalur yang licin karena disini masih sering hujan. Ketika mendaki harus sering memegang ranting pohon untuk membantu naik. Dari pos 2 hingga pos 5 jalur masih berupa hutan tertutup. Jarak antar pos untungnya tidak berjauhan.

 

Mulai dari pos 5 hingga puncak berubah berupa jalur terbuka. Ketika di Pos 5 mulai turun gerimis, kami pun bersegera memakai mantel hujan. Dari Pos 5 ini jalur berganti landai namun masih tetap menanjak. Di tengah perjalanan menuju pos 6 hujan malah berhenti. Mulai dari pos 5 ini sudah bisa menikmati keindahan pemandangan alam Gunung Sesean, sehingga di jalur inilah kami banyak berhenti. Sepanjang jalur banyak ditemui batu-batu besar, bahkan ada satu batu yang mirip wajah dan ada yang menamakannya bukit Bob Marley karena bentuknya itu.

Di pos 6 kami beristirahat dan mendirikan tenda serta terdapat pula sumber air. Baru sempat dua tenda yang dibangun, kami langsung diguyur hujan deras. Buru-buru kami memasang flysheet untuk berlindung dari hujan. Lama ditunggu hujan tak kunjung reda, hujannya malah awet hingga menjelang tengah malam. Pemandangan sunset pun terlewat karena hujan yang awet itu. Saat hujan reda saya sempat menikmati pemandangan lampu-lampu kota dan kendaraan seperti titik-titik cahaya yang bergerak pelan-pelan. Tidak lama saya menikmati pemandangan itu, badan saya mulai menggigil dan memilih masuk ke dalam tenda dan memakai sleeping bag kemudian tidur.

puncak_sesean_5Kemarin gagal menikmati sunset, pagi ini pun gagal lagi menikmati sunrise karena view di sekeliling gunung yang sedang mendung dan tertutup awan. Yang tampak hanya awan putih, di beberapa bagian tampak kelabu, namun itu tidak mengurangi keindahan pemandangan pagi itu. Disini kita bisa melihat pemandangan toraja dari atas, tongkonan yang terlihat tersebar dimana-mana, sawah-sawah, semuanya masih hijau-hijau.

Dengan modal sarapan segelas kopi hangat dan sekerat roti tawar yang dipanggang seadanya yang berisi taburan mesis ditengahnya beserta sapuhan margarin saya melanjutkan menuju puncak sendirian meninggalkan yang lain yang sementara masih asik berfoto-foto, saya seakan tak sabar berada di puncak. Agak ngeri-ngeri juga berjalan sendirian, walaupun di jalan kadang bertemu orang yang baru saja turun dari puncak. Untuk tersesat rasanya tidak karena jalur terlihat jelas. Perjalanan masih tetap menanjak dan harus berhati-hati melangkah karena licin sehingga gampang terpeleset, tadi malam kan habis hujan deras.

Sebuah batu besar terlihat di depan sana, saya berpikir itulah puncaknya dan sudah dekat. Menahan segala lelah yang ada dan terus menapak akhirnya tiba di batu besar itu. Setelah melihat sekeliling ternyata itu belum puncak, masih ada batu besar lagi yang lebih tinggi di sebelahnya. Saya agak sedikit tertipu. Saya pun berjalan lagi ke Batu besar itu yang saya duga sebagai puncak. Tiba di batu besar itu saya memilih istirahat lalu duduk melihat pemandangan sekitar. Saya benar-benar sendirian di batu besar itu sambil diterpa angin yang lumayan kencang karena tidak ada penghalang dan terasa agak dingin. Orang yang saya temui di jalan tadi adalah orang terakhir yang baru saja turun dari puncak. Sekitar setengah jam berlalu barulah teman-teman mulai tiba di puncak itu. Kemudian saya diberitahu teman katanya puncaknya itu masih disebelahnya lagi, hahaha…

Mau tidak mau saya ke batu sebelah itu. Pemandangan dari atas sini lebih wah lagi, awan-awan itu seperti kapas-kapas yang beterbangan menggantung bagai permadani yang berada di bawah kaki kita. Sulit rasanya digambarkan setiap detail keindahannya oleh kata-kata. Keindahan dari puncak gunung selalu memukau ingin rasanya duduk berlama-lama disana. Tapi akhirnya kami harus turun dan kembali pulang.

Sumber: https://rangkaijejak.wordpress.com/2015/05/04/puncak-sesean-titik-tertinggi-di-toraja/